Gunungan Dharat
Ulasan
Dalam bahasa Jawa, kata “gunungan” memiliki makna “gunung-gunungan” atau menyerupai gunung. Gunungan merupakan salah satu bentuk sesajian selamatan yang khusus dibuat untuk disajikan dalam selamatan negara setiap garebeg dan maleman atau selikuran.
Gunungan dalam upacara garebeg memiliki bentuk yang unik. Pada bagian puncaknya, terdapat kue besar berbentuk lempengan yang berwarna hitam. Di sekelilingnya, terdapat sejumlah besar kue ketan berbentuk lidah yang disebut ilat-ilatan. Gunungan ini diletakkan tegak di atas sebuah nampan raksasa berkerangka kayu dan diberi alas kain bangun tulak. Di bawah nampan, terdapat dua batang kayu atau bambu panjang sebagai alat pemikul.
Dalam upacara selamatan negara, gunungan memiliki peran penting. Gunungan menjadi simbol dari kekuasaan dan keberkahan yang melimpah. Melalui gunungan, masyarakat Jawa mengungkapkan rasa syukur dan penghormatan kepada Tuhan atas segala anugerah yang diberikan.
Selain itu, gunungan juga melambangkan keindahan alam dan kelestarian lingkungan. Bentuk gunungan yang menyerupai gunung mengingatkan manusia untuk menjaga dan melestarikan alam. Dalam filosofi Jawa, gunungan juga melambangkan kesatuan alam semesta dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.
Dalam upacara garebeg, gunungan menjadi pusat perhatian. Gunungan yang dipenuhi dengan berbagai macam kue dan makanan menjadi simbol kelimpahan rezeki yang diberikan oleh Tuhan. Kue-kue yang ada di dalam gunungan melambangkan berbagai macam keinginan dan harapan masyarakat Jawa. Masyarakat berharap agar rezeki dan keberkahan selalu melimpah dalam kehidupan sehari-hari.
Selain berisi kue dan makanan, gunungan juga dihiasi dengan berbagai bunga dan dedaunan. Bunga-bunga yang indah menggambarkan keindahan alam dan kehidupan yang harmonis. Deduanaan yang segar melambangkan kesuburan dan kehidupan yang berkelimpahan.
Upacara garebeg yang melibatkan gunungan ini dilakukan dengan penuh khidmat dan dilaksanakan secara turun-temurun. Setiap bagian dari gunungan memiliki makna dan filosofi tersendiri. Puncak gunungan yang berbentuk kue hitam melambangkan keberanian dan kekuatan. Kue ketan berbentuk lidah atau ilat-ilatan melambangkan kecerdasan dan kebijaksanaan.
Nampan raksasa yang berkerangka kayu dan diberi alas kain bangun tulak melambangkan kekokohan dan kelimpahan. Alat pemikul yang terbuat dari kayu atau bambu melambangkan kerja sama dan kebersamaan dalam menghadapi segala tantangan hidup.
Upacara garebeg dengan gunungan ini tidak hanya menjadi tradisi yang dilestarikan oleh masyarakat Jawa, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Jawa. Dalam setiap pelaksanaannya, upacara garebeg dan gunungan selalu mengundang perhatian dan kekaguman dari masyarakat setempat maupun wisatawan.
Melalui upacara garebeg dan gunungan, masyarakat Jawa mengajarkan pentingnya rasa syukur, penghormatan, dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari. Gunungan juga mengingatkan manusia untuk menjaga dan melestarikan alam serta memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Dalam kesimpulan, gunungan dalam upacara garebeg merupakan simbol dari kekuasaan dan keberkahan yang melimpah. Gunungan juga melambangkan keindahan alam, kesatuan alam semesta, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Melalui gunungan, masyarakat Jawa mengungkapkan rasa syukur dan penghormatan kepada Tuhan atas segala anugerah yang diberikan. Upacara garebeg dengan gunungan ini menjadi bagian dari identitas budaya Jawa dan mengajarkan pentingnya rasa syukur, penghormatan, dan kebersamaan.