GBPH Soeryobrongto

GBPH Soeryobrongto

Latar Belakang dan Pendidikan

GBPH Soeryobrongto lahir pada tanggal 11 November 1914 dari pernikahan antara GPB Perboyo dan BRA Poedjaningdyah. Ia diberi nama BRM Alpo Soelatmin. Ayahnya, GPB Perboyo, adalah seorang pangeran yang kemudian dinobatkan sebagai HB VIII. Sebagai seorang putra raja, Soeryobrongto memiliki hak untuk menempati Kepangeranan di Suryowijayan.

Sejak kecil, Soeryobrongto dititipkan kepada seorang guru sastra kebangsaan Belanda bernama Truden. Ia belajar sastra kebangsaan Belanda dari tingkat ELS, MULO, hingga AMS. Selain itu, sebagai seorang pangeran, Soeryobrongto juga memiliki kewajiban untuk belajar menari. Bersama dengan saudara-saudaranya, ia berlatih tari dan mendalami tarian tradisional gaya Kraton Yogyakarta di lingkungan Kraton Yogyakarta. Pada tahun 1932, ia juga belajar di Kridha Beksa Wirama.

Karir di Dunia Tari

Pada tahun 1933, Kraton Yogyakarta menggelar pementasan besar selama tiga hari tiga malam dengan lakon bersambung dari Semar Boyonh, Romo Nitik, hingga Romo Nitis. Dalam pementasan tersebut, BRM Alpo Soelatmin mendapat peran sebagai Ontorejo dan berhasil membawakannya dengan baik dan mungguh.

Selain itu, Soeryobrongto juga turut menciptakan tari Golek Menak yang kemudian dipersembahkan kepada Siswo Among Bekso Yogyakarta. Ia juga aktif mengajar tari di Kridho Bekso Wiromo pada tahun 1943 dan di Siswo Among Bekso pada tahun 1950. Pada tahun 1967 hingga 1969, ia menjadi dosen tari di Akademi Seni Tari Indonesia.

Prestasi Soeryobrongto di dunia tari tidak hanya terbatas di Indonesia. Pada tahun 1971, ia menjadi art director dalam perjalanan ke Eropa, termasuk Negeri Belanda, Inggris, Roma, Jerman Barat, dan Belgia. Pada tahun 1973, ia juga mengikuti Hongkong Art Festival dan melakukan tur keliling Jepang selama sebulan penuh.

Warisan dan Penghargaan

GBPH Soeryobrongto meninggalkan warisan yang berharga di dunia tari. Karya-karyanya, seperti tarian Golek Menak, telah dipersembahkan dan dilestarikan oleh Siswo Among Bekso Yogyakarta. Ia juga telah mengajarkan banyak generasi penerus di Kridho Bekso Wiromo, Siswo Among Bekso, dan Akademi Seni Tari Indonesia.

Prestasinya di dunia tari juga diakui dan dihargai. Ia menerima penghargaan sepanjang kariernya, termasuk penghargaan dari Pemerintah Indonesia dan pengakuan internasional dalam festival dan pertunjukan seni. Dedikasinya dalam melestarikan tari tradisional dan menciptakan karya-karya baru telah memberikan kontribusi yang besar bagi dunia seni tari.

GBPH Soeryobrongto

Latar Belakang dan Pendidikan

GBPH Soeryobrongto lahir pada tanggal 11 November 1914 dari pernikahan antara GPB Perboyo dan BRA Poedjaningdyah. Ia diberi nama BRM Alpo Soelatmin. Ayahnya, GPB Perboyo, adalah seorang pangeran yang kemudian dinobatkan sebagai HB VIII. Sebagai seorang putra raja, Soeryobrongto memiliki hak untuk menempati Kepangeranan di Suryowijayan.

Sejak kecil, Soeryobrongto dititipkan kepada seorang guru sastra kebangsaan Belanda bernama Truden. Ia belajar sastra kebangsaan Belanda dari tingkat ELS, MULO, hingga AMS. Selain itu, sebagai seorang pangeran, Soeryobrongto juga memiliki kewajiban untuk belajar menari. Bersama dengan saudara-saudaranya, ia berlatih tari dan mendalami tarian tradisional gaya Kraton Yogyakarta di lingkungan Kraton Yogyakarta. Pada tahun 1932, ia juga belajar di Kridha Beksa Wirama.

Karir di Dunia Tari

Pada tahun 1933, Kraton Yogyakarta menggelar pementasan besar selama tiga hari tiga malam dengan lakon bersambung dari Semar Boyonh, Romo Nitik, hingga Romo Nitis. Dalam pementasan tersebut, BRM Alpo Soelatmin mendapat peran sebagai Ontorejo dan berhasil membawakannya dengan baik dan mungguh.

Selain itu, Soeryobrongto juga turut menciptakan tari Golek Menak yang kemudian dipersembahkan kepada Siswo Among Bekso Yogyakarta. Ia juga aktif mengajar tari di Kridho Bekso Wiromo pada tahun 1943 dan di Siswo Among Bekso pada tahun 1950. Pada tahun 1967 hingga 1969, ia menjadi dosen tari di Akademi Seni Tari Indonesia.

Prestasi Soeryobrongto di dunia tari tidak hanya terbatas di Indonesia. Pada tahun 1971, ia menjadi art director dalam perjalanan ke Eropa, termasuk Negeri Belanda, Inggris, Roma, Jerman Barat, dan Belgia. Pada tahun 1973, ia juga mengikuti Hongkong Art Festival dan melakukan tur keliling Jepang selama sebulan penuh.

Warisan dan Penghargaan

GBPH Soeryobrongto meninggalkan warisan yang berharga di dunia tari. Karya-karyanya, seperti tarian Golek Menak, telah dipersembahkan dan dilestarikan oleh Siswo Among Bekso Yogyakarta. Ia juga telah mengajarkan banyak generasi penerus di Kridho Bekso Wiromo, Siswo Among Bekso, dan Akademi Seni Tari Indonesia.

Prestasinya di dunia tari juga diakui dan dihargai. Ia menerima penghargaan sepanjang kariernya, termasuk penghargaan dari Pemerintah Indonesia dan pengakuan internasional dalam festival dan pertunjukan seni. Dedikasinya dalam melestarikan tari tradisional dan menciptakan karya-karya baru telah memberikan kontribusi yang besar bagi dunia seni tari.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *