Diorama Arsip Jogja merupakan salah satu destinasi wisata sejarah yang baru saja diresmikan pada tanggal 24 Februari lalu. Terletak di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, diorama ini menampilkan sejarah Yogyakarta dalam bentuk yang menarik dan interaktif. Melalui paduan seni dan teknologi, arsip-arsip yang ditampilkan dalam diorama ini menjadi hidup dan mengajak pengunjung untuk merasakan pengalaman yang unik.
Pembuatan diorama ini melibatkan tim teknis yang memiliki reputasi internasional. Drs. Burhanudin DR, seorang Arsiparis Madya dan Penanggungjawab Layanan di Depo Arsip DPAD DIY, menjelaskan bahwa diorama Arsip Jogja bukan hanya sekadar proyek pemerintah daerah, tetapi juga merupakan proyek idealisme dari semua pihak yang terlibat, termasuk para seniman. Mereka memiliki idealisme tentang Jogja dan merasa perlu untuk menciptakan sebuah monumen yang menunjukkan keunggulan Yogyakarta.
Diorama Arsip Jogja terdiri dari 18 ruangan yang merangkum sejarah Yogyakarta selama kurang lebih 430 tahun. Alur cerita dimulai dari saat Panembahan Senopati mendirikan Kerajaan Mataram. Dalam diorama ini, terdapat dua sisi yang berbeda. Sisi sebelah timur menggambarkan Jogja Klasik, yakni masa kesultanan dan pakualaman, serta proses modernisasi Jogja yang digambarkan dengan Lokomotif Perubahan. Sisi sebelah barat menggambarkan Jogja modern, mulai dari lahirnya tokoh-tokoh Yogyakarta yang memberi kontribusi bagi republik, sektor pendidikan pada masa kolonial dan Jepang, hingga Jogja sebagai kota pendidikan, budaya, pariwisata, terjadinya bencana alam, dan keistimewaan Yogyakarta.
Burhan menjelaskan bahwa diorama Arsip Jogja tidaklah statis. Teknologi dan kontennya dapat terus dikembangkan sesuai dengan kondisi yang ada. Misalnya, diharapkan nantinya akan ada teknologi hologram dan virtual reality yang dapat menambah daya tarik bagi generasi kekinian. Begitu pula dengan kontennya, jika ditemukan arsip-arsip yang lebih lengkap, maka akan ditambahkan sebagai konten baru dalam diorama ini. Pihak pengelola juga mengharapkan para pengunjung memberikan kritikan dan masukan agar dapat menyempurnakan diorama ini.
Sejauh ini, antusiasme pengunjung terhadap diorama Arsip Jogja cukup tinggi, terutama sebelum bulan puasa. Namun, beberapa pengunjung kecewa karena kuota terbatas dan banyak yang tidak mengetahui bahwa sebelum masuk ke diorama, mereka harus melakukan registrasi secara online terlebih dahulu. Saat ini, diorama ini dapat dikunjungi secara gratis hingga ada peraturan daerah yang mengatur mengenai tarif kunjungan. Pihak pengelola masih belum bisa memastikan kapan sistem berbayar akan diterapkan dan besaran harganya. Mereka akan mempertimbangkan berbagai hal, termasuk bahwa Yogyakarta merupakan kota pelajar.
Burhan menegaskan bahwa pihak pengelola diorama Arsip Jogja bukanlah lembaga yang mencari keuntungan finansial. Semua tiket masuk yang diterima tidak akan masuk ke DPAD, tetapi akan menjadi pendapatan negara yang bukan berasal dari pajak. Tujuan dari pembangunan diorama ini adalah untuk mendorong pembentukan jati diri bangsa yang memiliki karakter, meningkatkan kesadaran sejarah, dan kesadaran mengenai arti penting arsip. Selain itu, keberadaan diorama ini juga diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan arsip yang ada di DPAD. Dengan adanya diorama ini, diharapkan arsip-arsip yang ada dapat diakses oleh masyarakat dan menjadi lebih bermanfaat.
Diorama Arsip Jogja merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah DIY untuk melestarikan dan memperkenalkan sejarah Yogyakarta kepada masyarakat. Melalui diorama ini, pengunjung dapat merasakan pengalaman yang mendalam dan memahami lebih baik tentang perjalanan sejarah yang telah dilalui oleh Yogyakarta selama 430 tahun. Diharapkan, diorama ini dapat menjadi salah satu destinasi wisata edukatif yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Informasi mengenai jadwal kunjungan dan registrasi dapat dilihat melalui website resmi diorama Arsip Jogja. Dengan adanya diorama ini, diharapkan masyarakat dapat lebih tertarik untuk mengunjungi dan memanfaatkan arsip-arsip yang ada di DPAD. Melalui diorama ini, Pemerintah Daerah DIY juga berharap dapat meningkatkan kesadaran sejarah dan mengenalkan nilai-nilai kebangaan terhadap Yogyakarta sebagai salah satu pusat kebudayaan di Indonesia.