Daruni
Daruni adalah seorang seniman yang berasal dari Jogonalan Lor, Bantul, Indonesia. Sejak kecil, Daruni sudah sering menunjukkan bakatnya dalam bernyanyi dan menari. Ayahnya adalah anggota grup kethoprak tobongan, sehingga Daruni sering menari sebelum pertunjukan dimulai. Bakatnya yang menonjol membuatnya dipilih untuk mengikuti Konservatori Tari Indonesia (KONRI) di Yogyakarta setelah lulus dari SD Kadipaten II pada tahun 1972.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya di SMP II Putri Yogyakarta pada tahun 1975, Daruni melanjutkan studinya di Jurusan Seni Tari di ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta. Dia menempuh pendidikan ini dengan penuh dedikasi dan berhasil lulus pada tahun 1985. Daruni juga melanjutkan pendidikan pascasarjana di Program Pasca Sarjana UGM.
Selama perjalanannya di dunia seni tari, Daruni memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Didi Nini Thowok pada tahun 1977. Mereka berdua bergabung dalam Bengkel Tari Didik Nini Thowok. Selain itu, Daruni juga pernah menjadi siswa di Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja pada tahun 1975-1976 dan dilatih di teater di Sanggar Bambu pada tahun 1976-1977.
Selain memiliki bakat dalam menari, Daruni juga memiliki kemampuan dalam melawak. Pada tahun 1978, ia membentuk grup lawak bernama Atmonadi Yunior dan berhasil menjadi juara Lomba Lawak Tingkat DIY pada tahun yang sama. Bakat melawaknya membuatnya tampil di depan Sultan Trengganu, Malaysia pada tahun 1997. Pada tahun 1998, Daruni juga menjadi penari dan pembicara dalam Pekan Humor FKY.
Keberbakatan Daruni tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Dia pernah berkolaborasi dalam teater tari di Yokohama dan Tokyo, Jepang bersama Yokohama Boat Teater pada tahun 1996. Selain itu, ia juga tampil dalam pertunjukan tari dan musik tradisional di beberapa kota di Portugal pada tahun 2004.
Daruni juga telah menghasilkan beberapa karya tulis dan seni yang mencerminkan bakat dan keahliannya di bidang tari. Beberapa karya yang telah dihasilkannya antara lain adalah Rekonstruksi Tari Srimpi Pramugari karya Sultan HB VII pada tahun 1984, Tari Humor, Sebuah Kajian Koreografi pada tahun 1992, Kehadiran Didik Nini Thowok di Dunia Tari: Sebuah Biografi pada tahun 1996, Kiat Didik Nini Thowok Menjual Tari pada tahun 1998, dan Analisa Gerak dan Karakter Kesenian pada tahun 2004.
Selain aktif dalam dunia seni tari, Daruni juga menjadi Kepala Pusat Studi Wanita di ISI Yogyakarta. Melalui peran ini, ia berusaha untuk memperjuangkan kesetaraan gender dalam dunia seni dan budaya.
Sebagai seorang seniman yang memiliki bakat dan dedikasi yang tinggi, Daruni telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan seni tari di Indonesia. Karya-karyanya yang terinspirasi dari budaya lokal dan internasional telah memberikan warna dan kekayaan pada dunia seni tari. Melalui penampilannya, ia juga telah menghibur dan menginspirasi banyak orang di dalam dan luar negeri.
Daruni adalah contoh nyata bahwa dengan bakat, kerja keras, dan dedikasi, seseorang dapat mencapai kesuksesan dalam bidang seni. Melalui perjalanan hidupnya yang penuh dengan perjuangan dan pencapaian, Daruni telah membuktikan bahwa seni adalah panggilan hidupnya. Dengan bakat dan keahliannya, ia terus menginspirasi generasi muda untuk mengejar impian mereka dan mengeksplorasi potensi seni yang ada dalam diri mereka.