Candi Borobudur
Ulasan
Candi Borobudur adalah salah satu situs bersejarah yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Candi ini menjadi salah satu warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO. Bersama dengan candi Prambanan dan situs manusia Purba Sangiran, candi Borobudur menjadi bagian dari warisan dunia yang memiliki nilai universal bagi kesejahteraan umat manusia.
Pertama-tama, mari kita bahas apa itu Warisan Dunia dan apa manfaat melindungi warisan dunia. Warisan Dunia adalah warisan fisik atau non fisik yang mendapatkan pengakuan dari UNESCO, sebuah lembaga formal yang berada di bawah naungan PBB. Warisan dunia dibagi menjadi tiga kategori, yaitu Warisan Budaya, Warisan Alam, dan Warisan Budaya dan Alam. Melindungi warisan dunia memiliki manfaat yang sangat penting, yaitu menjaga keragaman alam dan budaya, meningkatkan tanggung jawab manusia dalam melindungi ekosistem dan keragaman hayati, dan mempromosikan kekayaan alam dan budaya secara internasional.
Lalu, apa bedanya warisan dunia dengan tujuh keajaiban dunia? Warisan dunia berada di bawah UNESCO, sedangkan tujuh keajaiban dunia adalah inisiatif dari sebuah lembaga di Swedia. Pengakuan warisan dunia bersifat internasional, sementara tujuh keajaiban dunia tidak dibawahi oleh organisasi internasional. Warisan dunia dipilih berdasarkan pertimbangan para ahli, sedangkan tujuh keajaiban dunia dipilih berdasarkan voting suara terbanyak lewat internet. Setelah diakui, warisan dunia memiliki komitmen untuk melindungi tempat-tempat yang ditetapkan, sedangkan tujuh keajaiban dunia tidak memiliki komitmen tersebut.
Sekarang, mari kita fokus pada warisan dunia di Indonesia. Di Indonesia, terdapat enam warisan budaya dunia, yaitu candi Borobudur, candi Prambanan, situs manusia Purba Sangiran, wayang, keris, dan batik. Selain itu, ada juga empat warisan alam dunia, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Lorentz, dan Hutan Hujan Tropis Sumatera.
Candi Borobudur merupakan salah satu dari tiga warisan budaya dunia yang berupa benda. Candi ini memiliki latar belakang agama Budha dan menjadi salah satu tempat yang penting dalam sejarah agama Budha di Indonesia. Candi Borobudur memenuhi tiga dari sepuluh kriteria warisan budaya dunia. Candi ini dianggap sebagai masterpiece of human creative genius, melambangkan pertukaran nilai-nilai manusia dalam arsitektur, dan terkait dengan keyakinan serta karya seni universal yang luar biasa.
Candi Borobudur memiliki nilai universal yang luar biasa. Candi ini mencerminkan enam hal penting dalam kehidupan manusia, yaitu kemampuan, ketekunan, kecerdasan, kreativitas, ketakwaan, dan ketulusan berbuat baik. Candi ini juga memiliki makna dan nilai yang terkandung dalam ajaran agama Budha, serta menjadi bukti karya cipta masyarakat yang memiliki akal budi tinggi.
Sejarah candi Borobudur sangat menarik untuk dipelajari. Candi ini merupakan sebuah monumen yang menceritakan perjalanan spiritual manusia dalam mencapai pencerahan. Kisah perjalanan itu tergambar dalam barisan-barisan stupa yang terdiri dari 72 buah. Stupa-stupa ini tersusun dalam tiga tingkatan sebagai lingkaran-lingkaran konsentris yang mengelilingi stupa induknya. Bangunan stupa ini melambangkan proses konsentrasi meditatif dalam mencapai pencerahan.
Pendapat para ahli mengenai candi Borobudur juga menarik untuk diketahui. Willem F. Stutterheim, seorang ahli dari Belanda, membagi tingkatan candi Borobudur menjadi tiga sesuai pembagian kosmologi dalam agama Buddha. Namun, kemudian muncul kritik terhadap pembagian tersebut karena tidak menjelaskan mengapa terdapat relief-relief yang menggambarkan ajaran-ajaran Sutra Mahayana dan Tantrayana di 10 tingkatan Borobudur yang tidak ada hubungannya dengan kategori kosmologi agama Buddha. Prof. JG. De Casparis, seorang ahli lainnya, menjelaskan mengenai 10 tingkatan Bodhisatva yang merupakan konsep pencapaian pencerahan sempurna dalam ajaran Mahayana-Tantrayana.
Ada beberapa keunikan yang dimiliki oleh candi Borobudur. Pertama, pemilihan kitab-kitab yang dipahat di relief menunjukkan kejeniusan nenek moyang bangsa Indonesia dalam memilih sutra atau kitab suci agama Buddha yang paling pas untuk mencapai pencerahan yang sempurna secara terstruktur. Kedua, adanya integrasi antara Mahayana dan Tantrayana menunjukkan bahwa sang arsitek Borobudur merupakan praktisi tingkat tinggi yang telah menggabungkan praktek kedua aliran tersebut untuk mencapai pencerahan sempurna. Keunikan-keunikan tersebut hanya ada di candi Borobudur dan tidak ada di belahan dunia manapun seperti China, Tibet, Thailand, atau Burma.
Candi Borobudur juga memiliki beberapa tingkatan yang harus dilalui oleh seorang calon Buddha dalam menyempurnakan kesempurnaan dalam praktik. Ada 10 tingkatan yang harus dilalui, antara lain kesukacitaan, kemurnian, kecemerlangan, nyala berkobar, berhadapan langsung, berjalan jauh, tidak tergoyahkan, tidak lahir dan mati lagi, memberikan pengajaran dharma, dan bersemayam di alam Buddha. Setiap tingkatan tersebut memiliki makna dan simbolik yang mendalam dalam ajaran agama Buddha.
Terdapat beberapa sutra yang terkandung dalam candi Borobudur. Maha Karmawibhangga adalah salah satu pahatan relief yang ada di bawah kaki candi. Naskah Maha Karmawibhangga menceritakan tentang etika dan moral di dunia. Setiap pikiran, perasaan, perkataan, dan tindakan memiliki akibat tertentu. Ada juga relief-relief yang menggambarkan cerita kehidupan Sang Buddha, yang dikenal dengan nama Lalitawistara. Di dalam kitab Jatakmala, terdapat cerita-cerita tentang kehidupan Sang Buddha sebelum ia menjadi Buddha. Semua kisah tersebut mengajarkan nilai-nilai kebijaksanaan, kebajikan, dan kebaikan kepada manusia.
Ada beberapa legenda rakyat yang berhubungan dengan candi Borobudur. Mitos Kunto Bimo adalah salah satu mitos yang berkembang di sekitar candi ini. Menurut mitos tersebut, jika seseorang bisa menyentuh jari manis salah satu dari 72 patung yang ada di dalam stupa, segala keinginannya akan terkabul. Ada juga mitos Kura-Kura atau Kyai Brayut, yang berkaitan dengan gambar kura-kura dalam relief Jataka. Menurut kepercayaan, pasangan suami istri yang berdoa di depan gambar kura-kura akan diberi keturunan. Terdapat pula mitos unfinished Buddha atau Kyai Belet, yang berkaitan dengan patung Adi Buddha yang ada di museum Karmawibhangga. Cerita yang berkembang adalah jika seseorang memiliki niat jahat di depan patung tersebut, mereka akan sakit perut. Terakhir, ada legenda tentang sleeping Buddha, yang mengatakan bahwa Bukit Menoreh yang mengelilingi candi Borobudur adalah perwujudan dari Sleeping Buddha yang membangun dan menjaga keabadian candi Borobudur.
Ajaran agama Buddha yang terkandung dalam candi Borobudur sangatlah berharga. Agama Buddha mengajarkan bahwa manusia melakukan perbuatan yang memiliki akibat tertentu di masa depan. Hukum sebab-akibat ini dikenal sebagai hukum karma. Agama Buddha juga mengajarkan empat kebenaran mulia, yaitu hidup merupakan penderitaan, ada sebab dan akibat, penderitaan dapat dihentikan, dan ada jalan menuju berhentinya penderitaan. Agama Buddha juga mengajarkan bahwa tujuan tertinggi manusia adalah mencari kebahagiaan dan kebahagiaan tertinggi ada di Nirwana, di mana tidak ada lagi penderitaan.
Agama Buddha mengajarkan nilai-nilai seperti toleransi, tidak percaya begitu saja, tidak ada pengorbanan, hidup tanpa kekerasan, persamaan hak wanita dan laki-laki, dan menghargai kehidupan semua makhluk. Agama Buddha juga mengajarkan bahwa semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai kesempurnaan sejati.
Pelestarian candi Borobudur merupakan tugas yang penting bagi semua pihak. Faktor alam dan faktor manusia berdampak pada pelestarian candi ini. Faktor alam meliputi temperatur, getaran dari dalam bumi, dan air hujan. Faktor manusia meliputi tekanan dari pengunjung, kurangnya pemahaman wisatawan terhadap nilai-nilai budaya, manajemen yang kurang memahami persoalan konservasi, dan tindakan kriminal seperti pencurian.
Ada beberapa prinsip yang harus dijaga dalam melestarikan candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia. Prinsip-prinsip tersebut meliputi kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, penetapan candi Borobudur sebagai kawasan strategis nasional, pengembangan industri wisata yang ramah lingkungan, perbaikan struktur candi, perawatan material candi, dan evaluasi terhadap beberapa hal seperti jumlah pengunjung, etika wisatawan, dan lain-lain.
Wisatawan juga memiliki peran penting dalam pelestarian candi Borobudur. Mereka sebaiknya tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak candi, seperti memanjat, makan, minum, menyentuh, atau mengotori kawasan candi.
Dengan menjaga dan melestarikan candi Borobudur, kita dapat mempertahankan warisan budaya dunia yang memiliki nilai universal bagi kesejahteraan umat manusia. Candi ini bukan hanya warisan Indonesia, tetapi juga warisan dunia yang harus dijaga dan dihargai oleh semua orang.
Comments