Boy T Harjanto, seorang wartawan foto yang telah meluncurkan buku foto terbarunya yang berjudul Letusan Merapi 21, mengadakan acara peluncuran buku tersebut di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) pada Minggu malam, 12 Desember. Buku ini berisi kumpulan foto dokumentasi tentang aktivitas Gunung Merapi, mulai dari erupsi hingga kehidupan warga lereng Merapi. Proses pembuatan buku ini telah dimulai sejak tahun 2020 hingga 2021.
Boy T Harjanto menjelaskan bahwa Letusan Merapi 21 adalah buku seri ketujuh yang telah ia terbitkan. Keenam buku sebelumnya juga bertemakan gunung api, baik Merapi maupun gunung lainnya. Setiap buku memiliki fokus karya foto yang berbeda-beda, menyesuaikan dengan karakteristik aktivitas Gunung Merapi. Ia menjelaskan bahwa Gunung Merapi memiliki karakter erupsi yang unik, yang berbeda-beda setiap tahunnya. Dampaknya pun juga berbeda-beda.
Proses pemotretan untuk buku terbarunya ini tidaklah mudah bagi Boy T Harjanto. Terlebih saat ini masih dalam situasi pandemi, ia harus menghadapi berbagai kendala. Meskipun dalam situasi pandemi, Boy T Harjanto rela menghabiskan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk tidak pulang ke rumah demi mengabadikan Gunung Merapi. Ia bahkan tetap memotret saat bulan puasa, karena baginya, puasa dan pandemi bukanlah halangan untuk tetap memotret. Seluruh foto yang ada dalam buku ini diambil selama terjadinya pandemi Covid-19.
Foto-foto dalam buku tersebut berasal dari sejumlah lokasi pemotretan, seperti Gardu Pandang Gunung Merapi di Desa Turgo Sleman, Lapangan Kali Boyong Sleman, Desa Tunggularum, dan Desa Kaliurang, Srumbung, Jawa Tengah. Namun, Boy T Harjanto menganggap Gardu Pandang Desa Turgo sebagai lokasi yang sangat ideal untuk memotret Gunung Merapi. Ia mengatakan bahwa sudut pandang Merapi dari lokasi tersebut sangat bagus dan berada pada jarak aman. Gardu pandang tersebut berjarak sekitar 7 kilometer dari puncak Merapi dan sesuai dengan jarak tangkap lensa yang ia gunakan. Lokasi tersebut begitu ideal sehingga Boy T Harjanto harus memboyong sejumlah perlengkapan dan kebutuhannya ke gardu pandang tersebut. Ia bahkan harus membawa tenda, kantong tidur, bahan makanan, dan pakaian ganti sehari-hari. Ia hanya turun ke kota jika ada keperluan, jika tidak, ia bertahan di sana.
Selain situasi pandemi, Boy T Harjanto juga menghadapi kendala lain selama proses pemotretan Gunung Merapi, seperti saat Gunung Merapi tertutup kabut atau hujan. Disebutkan bahwa dalam kondisi tersebut, ia tidak dapat menghasilkan foto sama sekali, dan harus menunggu berhari-hari. Terlebih lagi saat musim hujan, kendala tersebut semakin bertambah.
Buku Letusan Merapi 21 memiliki 112 halaman dan dijual dengan harga Rp. 70.000. Seluruh hasil penjualan buku akan disumbangkan kepada warga yang menjadi korban bencana erupsi Gunung Semeru. Boy T Harjanto berharap bukunya dapat laris terjual dan semua hasil penjualan akan disumbangkan melalui PFI Yogyakarta.
Boy T Harjanto memulai karirnya sebagai wartawan foto sejak tahun 1999 dan merupakan lulusan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Selama karirnya, ia pernah bekerja di sejumlah kantor berita, seperti Harian Umum Bengawan Pos (2001-2003), Harian Pagi Indo Pos (2003-2009), Jakarta Globe Newspaper (photo stringer), European Pressphoto Agency (EPA), dan lainnya.
Dengan meluncurkannya buku Letusan Merapi 21, Boy T Harjanto memberikan kontribusi yang berarti dalam dokumentasi tentang Gunung Merapi. Buku ini tidak hanya menyajikan foto-foto yang menakjubkan, tetapi juga menggambarkan keunikan karakter erupsi Gunung Merapi yang berbeda-beda setiap tahunnya. Dalam situasi yang tidak mudah, Boy T Harjanto tetap berusaha mengabadikan keindahan dan kekuatan alam yang terkandung dalam Gunung Merapi. Diharapkan buku ini dapat menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan bagi pembacanya, serta memberikan dukungan bagi mereka yang menjadi korban bencana alam.