Heading 2: Beng Rahardian
Beng Rahardian adalah seorang pria yang lahir di Cirebon, Jawa Barat pada tanggal 29 Mei 1975. Ia tinggal di Jl. Pangampaan Dalam No. 14 Bandung, Jawa Barat. Beng dikenal sebagai seorang penggemar komik sejak kecil. Ia terkontaminasi dengan kata media exposure oleh komik-komik yang sedang ngetren di jamannya. Bahkan, ia menghabiskan serial wayangnya RA Kosasih. RA Kosasih adalah perintis komik di Indonesia. Ia menerbitkan puluhan jilid komik pada tahun 1955-1960 untuk memuaskan pembacanya. Beng juga menggemari komik Jepang dan komik Eropa. Ia menyukai komik seperti Kung Fu Boy, Akira, City Hunter, Gong, Master Keaton, Asterix, Tintin, dan Gaston.
Beng memiliki pengetahuan yang cukup memadai tentang perkembangan komik. Ia pernah kuliah di Institut Seni Indonesia dan aktif dalam berbagai kegiatan kesenian, terutama yang berhubungan dengan pameran kartun. Salah satu pameran yang pernah diikutinya adalah Pameran Kabinet Komik Indie dan Pameran Kartunisi. Keikutsertaannya dalam pameran ini membawanya untuk memiliki pemahaman yang lebih luas tentang seni kartun. Beng mulai membuat komik pada tahun 1999 setelah pindah ke Yogyakarta. Ia membentuk kelompok dengan bendera tehjahe dan mengalami metamorfosis dalam pandangannya tentang komik.
Beng mengakui bahwa di Yogyakarta, komik tidak lagi perlu penokohan dan dramaturgi. Komik di Yogyakarta lebih mengedepankan ekspresi dan seni instalasi. Beng sangat terkesan dengan komik gaya ini sehingga ia membuat skripsi yang membahas tentang komik independen Indonesia. Skripsinya berjudul “Komik Independen Indonesia (Sebuah Kajian Fenomenologi)” dan berhasil membawanya lulus setelah 6 tahun kuliah di ISI. Setelah lulus, Beng menggelar pameran komik bersama teman-temannya sebelum pendadaran.
Beng memiliki cinta yang besar pada Indonesia, terutama Yogyakarta. Ia menganggap Yogyakarta sebagai tempat di mana ia bermetamorfosis. Ayah Beng, Mohammad Irwan Syafe’i, mungkin tidak pernah membayangkan bahwa Beng akan bekerja di bidang animasi di Malaysia. Beng bekerja di Production House Jutakira Sdn Bhn sebagai animator. Production house ini membuat program siaran untuk TV2 Malaysia. Selain itu, Beng juga menulis kolom di majalah komik “Aku dan Sesuatu” di Malaysia. Kolom tersebut awalnya bernama “Komik Indie Indonesia” namun kemudian diubah menjadi “Secawan tehjahe”. Beng merasa bangga karena masih bisa berkarya secara penuh tanpa pengeditan dan menggunakan namanya sendiri.
Beng tidak hanya bekerja di Malaysia, tetapi juga turut berpartisipasi dalam pencerahan scene komik di negara tersebut. Ia bersama dengan Bagas bekerja di kolom “Komik Indie Indonesia” untuk memberikan kontribusi pada komik di Malaysia.
Heading 3: Ulasan
Di masa kini, orang tua seringkali protektif terhadap kegiatan elektronik anak-anak mereka. Mereka khawatir bahwa kegiatan seperti bermain PC-Games, Play Station, dan komik dapat mengganggu pelajaran di sekolah. Namun, nyatanya komik tetap diproduksi hingga kini. Indonesia bahkan harus mengimpor cerita komik berseri dari Jepang dan Eropa. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah kita sebenarnya mengimpor mimpi.
Beng Rahardian, seorang penggemar komik sejak kecil, memiliki pengalaman yang berbeda. Ia tumbuh dengan terpapar komik-komik yang sedang ngetren di jamannya. Ia bahkan menghabiskan serial wayangnya RA Kosasih. RA Kosasih adalah perintis komik di Indonesia yang menerbitkan puluhan jilid komik pada tahun 1955-1960. Beng juga menggemari komik Jepang seperti Kung Fu Boy, Akira, City Hunter, Gong, dan Master Keaton. Ia juga menyukai komik Eropa seperti Asterix, Tintin, dan Gaston.
Beng memiliki pengetahuan yang cukup memadai tentang perkembangan komik. Ia aktif dalam berbagai kegiatan kesenian terutama yang berhubungan dengan pameran kartun. Pada tahun 1998, Beng berpartisipasi dalam Pameran Kabinet Komik Indie dan Pameran Kartunisi. Pengalaman ini membawanya untuk memiliki pemahaman yang lebih luas tentang seni kartun. Beng lantas membuat skripsi yang membahas tentang komik independen Indonesia. Skripsinya berhasil membawanya lulus setelah 6 tahun kuliah di Institut Seni Indonesia.
Setelah lulus, Beng mulai membuat komik pada tahun 1999. Ia membentuk kelompok dengan bendera tehjahe dan mengalami metamorfosis dalam pandangannya tentang komik. Beng mengakui bahwa di Yogyakarta, komik tidak lagi perlu penokohan dan dramaturgi. Komik di Yogyakarta lebih mengedepankan ekspresi dan seni instalasi. Ia sangat terkesan dengan komik gaya ini sehingga ia membuat skripsi yang membahas fenomena tersebut.
Beng memiliki cinta yang besar pada Indonesia, khususnya Yogyakarta. Ia menganggap Yogyakarta sebagai tempat di mana ia bermetamorfosis. Ayah Beng mungkin tidak pernah membayangkan bahwa Beng akan bekerja di bidang animasi di Malaysia. Beng bekerja di Production House Jutakira Sdn Bhn sebagai animator. Production house ini membuat program siaran untuk TV2 Malaysia. Selain itu, Beng juga menulis kolom di majalah komik “Aku dan Sesuatu” di Malaysia. Kolom tersebut awalnya bernama “Komik Indie Indonesia” namun kemudian diubah menjadi “Secawan tehjahe”. Beng merasa bangga karena masih bisa berkarya secara penuh tanpa pengeditan dan menggunakan namanya sendiri.
Beng tidak hanya bekerja di Malaysia, tetapi juga turut berpartisipasi dalam pencerahan scene komik di negara tersebut. Ia bersama dengan Bagas bekerja di kolom “Komik Indie Indonesia” untuk memberikan kontribusi pada komik di Malaysia.