Badran, pada era 1970-an, terkenal sebagai kampung preman atau kampung gali. Kampung ini dulunya merupakan kuburan bagi komunitas China. Namun, seiring berjalannya waktu, kampung Badran mulai berbenah diri untuk mengubah stigma buruk yang melekat padanya. Kesadaran warga akan nama buruk daerah ini tidak membuat mereka pasrah dengan keadaan. Sebaliknya, masyarakat di RW 11, yang terdiri atas 5 RT, mulai membuka diri dan berusaha mengubah citra kampung mereka.
Ketua RW 11, Joko Sularno, menjelaskan bahwa pada tahun 80-an, Badran terkenal sebagai kawasan preman. Stigma ini sangat berat bagi orang-orang yang tinggal di kampung ini, terutama anak-anak yang hidup di sana. Keadaan ini membuat warga sekitar gelisah dan ingin melakukan perubahan yang positif. Sebagai langkah awal, mereka membentuk perkumpulan yang dikenal dengan nama Forum Kampung Ramah Anak Badran RW 11. Forum ini didirikan pada tanggal 22 Juli 2011 dan diresmikan oleh Wali Kota saat itu, Herry Zudianto.
Perlahan-lahan, forum ini mulai melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kualitas hidup di kampung Badran. Mereka melakukan kampanye kampung sehat dan bersih, memberdayakan potensi anak-anak melalui olahraga tenis meja, serta membuka kolam renang umum yang dikelola oleh wilayah RW. Pembangunan sarana dan prasarana ini merupakan program penataan kawasan yang didukung oleh Pemkot Yogya. Joko menambahkan bahwa dana sebesar Rp 200 juta digunakan untuk memperbaiki sumber mata air, tangga, jalan setapak, kolam renang, saluran mata air, dan gazebo.
Salah satu hal yang menarik perhatian Tim Gudegnet adalah adanya kolam renang yang sering digunakan oleh anak-anak dari Badran dan sekitarnya. Pada salah satu hari, seorang anak plosotan terlihat berenang di kolam renang tersebut. Tim Gudegnet kemudian mengajak Nata, seorang anak berusia 8 tahun, untuk berbicara. Nata dengan polosnya mengaku bahwa ia sering mandi di kolam renang itu, bahkan bisa mencapai 3 kali dalam seminggu.
“Nata mengatakan bahwa air kolam renang ini bersih dan teman-temannya juga banyak,” ungkap Tim Gudegnet. Nata baru saja mendapatkan saweran dari tamu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang sedang berkunjung ke kampung Badran. Sejak dibukanya kolam renang ini pada tanggal 22 April 2012, minat anak-anak terhadap tempat ini semakin meningkat. Hanya dengan membayar Rp 1.000,00, mereka dapat menikmati fasilitas kolam renang ini.
Pembangunan kolam renang ini memiliki tujuan khusus, yaitu untuk mengalihkan aktivitas anak-anak yang sering bermain di warnet tanpa pengawasan. Joko khawatir hal ini bisa berdampak buruk bagi anak-anak. “Setidaknya, dengan adanya kolam renang ini, anak-anak memiliki alternatif kegiatan yang lebih bermanfaat daripada bermain PlayStation atau pergi ke warnet tanpa pendampingan,” tambah Joko.
Joko berharap dengan adanya Forum Kampung Ramah Anak Badran, kampung ini akan mengalami transformasi yang positif. Ia berharap warga Badran, terutama generasi muda yang tinggal di dalamnya, akan bangga menjadi bagian dari kampung ini. Forum ini diharapkan dapat memberikan jawaban positif terhadap perjalanan kampung Badran dan memberikan dorongan bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam membangun kampung mereka.
Pada akhirnya, Badran berhasil mengubah citra negatifnya sebagai kampung preman menjadi kampung yang ramah terhadap anak-anak. Melalui upaya yang dilakukan oleh warga dan dukungan dari pemerintah, kampung Badran mulai menunjukkan perubahan yang positif. Dengan adanya kolam renang dan kegiatan-kegiatan lain yang diselenggarakan oleh Forum Kampung Ramah Anak Badran, anak-anak di kampung ini memiliki tempat yang aman dan nyaman untuk bermain dan belajar.
Perubahan ini menunjukkan bahwa dengan kesadaran warga dan kerjasama yang baik antara masyarakat dan pemerintah, sebuah kampung dapat mengubah nasibnya dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi generasi muda. Badran adalah contoh nyata bahwa sebuah kampung dapat bangkit dari stigma buruk dan menjadi tempat yang aman serta ramah bagi anak-anak.
Kisah Badran ini juga menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain di Indonesia untuk mengubah citra buruk mereka. Dengan adanya kesadaran akan pentingnya peran masyarakat dalam membangun kampung yang ramah terhadap anak-anak, kita dapat menciptakan tempat-tempat yang aman dan nyaman bagi generasi muda kita.
Dalam menghadapi tantangan yang ada, Badran telah menunjukkan bahwa dengan kemauan dan kerjasama, sebuah kampung dapat berubah. Masyarakat Badran tidak hanya pasrah dengan stigma negatif yang melekat pada kampung mereka, tetapi mereka berusaha untuk mengubahnya. Dukungan dari pemerintah dan adanya Forum Kampung Ramah Anak Badran menjadi kunci keberhasilan perubahan ini.
Kini, Badran bukan lagi kampung preman, tetapi kampung yang ramah dan aman bagi anak-anak. Perubahan ini tentu bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan kerja keras dan komitmen yang tinggi, Badran berhasil mengubah nasibnya. Semoga kisah Badran dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi kampung-kampung lain di Indonesia untuk mengubah nasib mereka dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi generasi muda.