Arsip kegiatan sastra: Peluncuran buku puisi Apokalipsa Kata karya Dedet Setiadi menjadi bagian dari perayaan sepuluh tahun Sastra Bulan Purnama (SBP) pada Oktober 2021. Tanggal-tanggal dalam tulisan ini adalah agenda historis, bukan undangan untuk menghadiri acara pada 2026. Berikut latar kegiatan, tokoh yang terlibat, rangkaian peluncuran buku, serta perkembangan komunitas sastra Yogyakarta hingga 2026.
Perayaan 10 tahun Sastra Bulan Purnama pada Oktober 2021
Sastra Bulan Purnama adalah ruang pertemuan para penyair, pembaca, pemusik, dan pencinta sastra yang tumbuh di Yogyakarta. Pada Oktober 2021, komunitas ini memasuki usia sepuluh tahun. Salah satu kegiatan yang direncanakan untuk menandai perjalanan tersebut ialah peluncuran Apokalipsa Kata, buku puisi penyair Magelang Dedet Setiadi.
Menurut laporan Koran Bernas, 12 Oktober 2021, acara tatap muka terbatas dijadwalkan pada Sabtu, 16 Oktober 2021, pukul 13.00–15.00 WIB di Tembi Rumah Budaya, kawasan Jalan Parangtritis kilometer 8,5, Sewon, Bantul. Pembaca yang ingin mengenal lokasi budaya tersebut dapat melihat profil Tembi Rumah Budaya dan Desa Wisata Tembi. Kedua tautan ini adalah bacaan tentang kawasan, bukan konfirmasi bahwa kegiatan 2021 masih berlangsung.
Mengapa acara berlangsung terbatas?
Perayaan tersebut direncanakan ketika kegiatan publik masih dipengaruhi pandemi COVID-19. Laporan menjelang acara menyebut kuota sekitar 30 orang, pendaftaran terlebih dahulu, dan penerapan protokol kesehatan. Angka itu merupakan batas peserta pada agenda Oktober 2021, bukan kapasitas normal Tembi Rumah Budaya ataupun kebijakan kunjungan saat ini.
Format terbatas menunjukkan bagaimana komunitas sastra berusaha mempertahankan pertemuan langsung tanpa mengabaikan situasi kesehatan pada masa itu. Perubahan cara berkumpul juga menjadi konteks penting untuk memahami mengapa sebagian kegiatan ulang tahun SBP kemudian disiarkan melalui platform digital.
Apa isi dan latar buku puisi Apokalipsa Kata?
Apokalipsa Kata merupakan kumpulan puisi Dedet Setiadi yang diterbitkan Tri BEE, penerbit dari Magelang. Laporan 2021 menyebut ketebalan buku sekitar seratus halaman dan keterlibatan penyair Wicahyanti Rejeki sebagai kurator yang menyeleksi puisi-puisi Dedet dari karya yang pernah tersebar di media. Informasi ini merupakan rincian penerbitan historis; ketersediaan cetakan atau harga jual pada 2026 belum diverifikasi.
Dedet Setiadi dan perjalanan kepenyairannya
Dedet Setiadi dikenal sebagai penyair yang tinggal di wilayah Ngluwar, Magelang, dan menulis sejak dekade 1980-an. Pemberitaan menjelang peluncuran menyebut keterlibatannya dalam Puisi Indonesia 1987 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dua buku puisi tunggal yang disebut dalam profil arsip ialah Gembok Sangkala (2012) dan Pengakuan Adam di Bukit Huka (2015).
Riwayat tersebut membantu menempatkan Apokalipsa Kata sebagai bagian dari perjalanan kepenulisan yang lebih panjang, bukan karya yang muncul tiba-tiba saat perayaan ulang tahun komunitas. Bagi pembaca yang tertarik pada ekosistem literasi lokal, profil Majalah Basis dan profil Penerbit Jalasutra memberikan konteks berbeda tentang media dan penerbitan; keduanya tidak dinyatakan sebagai penerbit buku Dedet.
Pembacaan puisi, musik, dan perbincangan karya
Agenda 16 Oktober 2021 menempatkan puisi sebagai pertunjukan yang didengar, bukan hanya teks yang dibaca. Sashmyta Wulandari dan Tosa Santosa tercantum sebagai pembaca puisi Dedet, sementara Joshua Igho dijadwalkan menyajikan lagu puisi serta ilustrasi piano. Perbincangan karya direncanakan melibatkan penyair Joko Pinurbo dan cerpenis Joni Ariadinata.
Format seperti ini mempertemukan tiga pengalaman: mendengar teks dibacakan, menikmati interpretasi musikal, dan memahami karya melalui diskusi. Dalam kegiatan sastra, pilihan intonasi pembaca dapat menonjolkan makna yang berbeda dari pembacaan diam-diam. Musik memberi suasana, sementara diskusi membantu audiens menafsirkan pilihan bahasa tanpa harus sepakat pada satu arti tunggal.
Perpaduan karya dan pertunjukan juga terlihat pada beragam kegiatan seni di Yogyakarta, misalnya artikel tentang Java Poetry, pembacaan puisi untuk ibu, dan pentas monolog Jawa di Taman Budaya. Tautan tersebut adalah contoh bacaan terkait, bukan bagian dari susunan acara peluncuran buku Dedet.
Rangkaian ulang tahun SBP: dari Apokalipsa Kata ke 121 Purnama
Perayaan sepuluh tahun SBP tidak hanya berpusat pada satu buku. Pada Oktober 2021, komunitas juga menyiapkan antologi 121 Purnama yang memuat puisi dari 81 penyair berbagai kota di Indonesia. Menurut laporan Koran Bernas, 20 Oktober 2021, peluncuran antologi dijadwalkan melalui Zoom pada Sabtu, 23 Oktober 2021, sebagai bagian dari edisi ke-121 Sastra Bulan Purnama.
Rangkaian digital pada akhir Oktober 2021 juga mencantumkan agenda buku Dedet pada 22 Oktober melalui YouTube. Ini berbeda dari agenda tatap muka terbatas 16 Oktober di Tembi. Perbedaan tanggal dan format tersebut perlu dipertahankan agar pembaca tidak menyatukan beberapa kegiatan menjadi satu peristiwa yang keliru. Lihat pula artikel peluncuran antologi 121 Purnama untuk konteks penerbitan bersama.
Mengapa angka 121 dan 81 penting?
Angka 121 merujuk pada edisi kegiatan komunitas pada perayaan sepuluh tahun, sedangkan 81 merupakan jumlah penyair yang karyanya dimuat dalam antologi menurut laporan penyelenggara saat itu. Angka tersebut tidak berarti hanya ada 81 anggota atau hanya 121 kegiatan sepanjang masa. Dalam arsip kebudayaan, perbedaan antara nomor edisi, jumlah kontributor, dan jumlah peserta perlu dijelaskan dengan tepat.
Acara daring memberi peluang bagi penyair dari kota berbeda untuk bertemu tanpa perjalanan fisik, terutama ketika mobilitas masih terbatas. Pembaca yang ingin menjelajahi aktivitas penerbitan dan diskusi buku di Jogja dapat membaca catatan perupa dalam buku Taman Rasa atau ruang kopi dan literasi. Keduanya merupakan contoh topik literasi setempat, bukan program resmi SBP.
Perkembangan Sastra Bulan Purnama hingga 2026
SBP tidak berhenti setelah perayaan 2021. Laporan Koran Bernas pada Juni 2026 mencatat kolaborasi komunitas dengan STPMD APMD untuk peluncuran antologi Air Mata Kata karya 13 penyair. Kemudian, Catrawarta, 19 Agustus 2026 melaporkan agenda edisi ke-179 di Bale Banjar Sangkring, yang mempertemukan puisi dan seni rupa dalam konteks Yogya Annual Art.
Pemberitaan Agustus 2026 juga menyebut rencana peringatan 15 tahun komunitas pada Oktober 2026, termasuk penerbitan antologi bertema kota. Rencana yang diberitakan sebelumnya tidak otomatis membuktikan semua agenda terlaksana sesuai jadwal. Untuk mengetahui acara mendatang, periksa pengumuman penyelenggara yang terbaru dan hindari memakai jadwal Oktober 2021 sebagai panduan kunjungan.
Yogyakarta sebagai ruang pertemuan sastra dan seni
Keberlanjutan komunitas seperti SBP berkaitan dengan banyaknya ruang budaya dan komunitas kreatif di Yogyakarta. Pembaca dapat menjelajahi Taman Budaya Yogyakarta, Bentara Budaya Yogyakarta, Kedai Kebun Forum, serta Rumah Budaya Omah Petruk sebagai contoh tempat dan topik seni yang berbeda. Penyebutan tempat-tempat tersebut tidak berarti semuanya pernah menjadi lokasi kegiatan SBP.
Untuk melihat keragaman praktik seni, tersedia juga bacaan mengenai pameran lukisan Kangen Jogja dan pameran duo Nyrawung Yuk. Kehadiran berbagai bentuk ekspresi membantu menjelaskan mengapa pembacaan puisi dapat berkolaborasi dengan musik, seni rupa, dan ruang komunitas.
FAQ seputar Apokalipsa Kata dan Sastra Bulan Purnama
Siapa penulis buku Apokalipsa Kata?
Penulisnya adalah Dedet Setiadi, penyair yang beraktivitas di wilayah Magelang dan telah menulis sejak dekade 1980-an menurut laporan 2021.
Kapan peluncuran Apokalipsa Kata di Tembi?
Agenda tatap muka terbatas tercatat pada Sabtu, 16 Oktober 2021, pukul 13.00–15.00 WIB. Ada pula agenda digital berbeda pada 22 Oktober 2021.
Apa hubungan Apokalipsa Kata dengan 121 Purnama?
Keduanya merupakan bagian dari rangkaian perayaan sepuluh tahun SBP pada Oktober 2021. Apokalipsa Kata adalah kumpulan puisi Dedet Setiadi; 121 Purnama merupakan antologi karya 81 penyair.
Apakah acara Oktober 2021 masih bisa diikuti?
Tidak. Semua tanggal 2021 yang disebut merupakan arsip. Informasi kegiatan SBP berikutnya perlu diperiksa melalui sumber penyelenggara atau pemberitaan terbaru.
Referensi
- Koran Bernas (12 Oktober 2021): agenda peluncuran Apokalipsa Kata.
- Koran Bernas (20 Oktober 2021): antologi 121 Purnama.
- Kemendikdasmen: data komunitas Rumah Budaya Tembi–Sastra Bulan Purnama.
- Koran Bernas (19 Juni 2026): kolaborasi SBP dan APMD.
- Catrawarta (19 Agustus 2026): SBP edisi 179 dan agenda 15 tahun.
Catatan editorial: Tulisan ini mengolah kembali fakta arsip dari sumber yang diberi tanggal. Tidak ada klaim bahwa redaksi menghadiri acara, mewawancarai penyair secara langsung, atau telah memeriksa ketersediaan buku saat ini.