Amri Yahya

Amri Yahya adalah seorang seniman yang lahir di Sukaraja, Ogan Ilir, Palembang, Sumatera Selatan pada tanggal 29 September 1939. Ia memiliki latar belakang pendidikan seni yang sangat kuat, dengan menempuh pendidikan di ASRI Yogyakarta dan IKIP Yogyakarta. Amri Yahya juga memiliki sertifikat keramik dinding dari Struktur 68 Bv, The Hague Holland dan gelar Kehormatan Doktor Honoris Causa di Bidang Evaluasi Pendidikan Seni dari Universitas Negeri Yogyakarta.

Sebagai anggota kehormatan International Association of Art (IAA) UNESCO Paris sejak tahun 1977, Amri Yahya telah berpartisipasi dalam banyak konferensi seni dan budaya internasional. Pada tahun 1996, ia mewakili Indonesia dalam Konferensi Seni Budaya Islam se-dunia di Hofsra University, New York. Ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan seni di dalam negeri, seperti mendirikan Galeri Amri pada tahun 1972 dan memperkenalkan busana muslim ke kancah nasional pada tahun 1977.

Dalam perjalanan karirnya, Amri Yahya juga turut menggagas Festival Istiqlal pada tahun 1990 dan mengusulkan berdirinya museum Al Quran di Jakarta. Karya-karyanya telah dikoleksi oleh perorangan, pejabat negara, dan lembaga di dalam dan luar negeri. Ia telah mengadakan pameran tunggal di berbagai tempat, termasuk di Eropa, kawasan Timur Tengah, Amerika, dan Indonesia.

Salah satu pameran tunggal terakhir Amri Yahya di luar negeri adalah di Asean Art Museum, San Fransisco pada tahun 1996. Pameran ini merupakan yang kelima kalinya ia mengadakan pameran tunggal di luar negeri. Di Indonesia, pameran terakhirnya diadakan di Palembang pada tahun 1999, di Jakarta pada tahun 2000 berturut-turut di Taman Ismail Marzuki dan Komplek Bidakara.

Setiap kali mengadakan pameran tunggal di luar negeri, Amri Yahya selalu menyertakan acara diskusi, pemutaran slide tentang kesenian Indonesia, dan demo melukis dengan media batik. Ia ingin memperkenalkan seni Indonesia kepada masyarakat internasional dan membanggakan kekayaan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Namun, pada tahun 2004, Galeri Amri yang didirikannya terbakar habis. Sebagian besar karya yang ada di galeri tidak dapat diselamatkan kembali. Keadaan ini sangat mempengaruhi kesehatan Amri Yahya, dan pada bulan Desember 2004, ia meninggal dunia dalam usia 65 tahun.

Kepergian Amri Yahya adalah kehilangan besar bagi dunia seni Indonesia. Ia adalah seorang seniman yang berdedikasi tinggi dalam mengembangkan seni rupa di Indonesia. Karya-karyanya yang telah dikoleksi oleh banyak orang dan lembaga merupakan bukti akan kualitas dan keindahan karya seninya.

Meskipun Amri Yahya sudah tiada, warisan seninya tetap hidup dan terus menginspirasi para seniman muda Indonesia. Karya-karyanya yang unik dan inovatif telah memberikan kontribusi yang besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Amri Yahya adalah contoh teladan bagi para seniman Indonesia untuk terus berkarya dan mengembangkan bakat seni yang dimiliki.

Selain itu, keberhasilan Amri Yahya dalam memperkenalkan seni Indonesia ke dunia internasional juga menjadi inspirasi bagi para seniman Indonesia lainnya. Ia telah membuka jalan bagi seniman-seniman Indonesia untuk dikenal dan diakui di kancah internasional.

Pada akhirnya, Amri Yahya adalah sosok yang patut dihormati dan diingat dalam sejarah seni rupa Indonesia. Dedikasinya dalam mengembangkan seni rupa dan memperkenalkan seni Indonesia ke dunia internasional tidak akan pernah dilupakan. Semoga warisannya akan terus hidup dan menginspirasi generasi-generasi mendatang.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *