Aksi Damai Mahasiswa Tolak Relokasi Bonbin
Kantin Rekadaya Boga Humaniora atau yang sering disebut Kantin Bonbin, merupakan salah satu kantin legendaris yang berada di dalam kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta. Sejak tahun 1987, Kantin Bonbin telah menjadi tempat berkumpul dan berbagi cerita bagi civitas akademika UGM. Namun, saat ini Kantin Bonbin berada dalam ancaman relokasi akibat rencana pembuatan area hijau di UGM. Fenomena ini cukup mengguncang kalangan akademika UGM hingga mahasiswa pun turut serta dalam aksi demonstrasi damai untuk menolak relokasi Kantin Bonbin.
Kantin Bonbin memiliki daya tarik yang unik dan spesial bagi mahasiswa UGM. Dalam wawancara dengan beberapa mahasiswa, terungkap bahwa di kantin ini terdapat tradisi ngutang yang cukup unik. Para mahasiswa dapat melakukan praktek hutang piutang secara informal dengan penjual makanan. Meskipun demikian, mereka tetap berkomitmen untuk menepati janji dan melunasi hutang mereka jika telah mendapatkan kiriman uang di awal bulan. Hal ini menunjukkan adanya keakraban dan hubungan yang erat antara mahasiswa dengan penjual makanan di Kantin Bonbin.
Selain itu, Kantin Bonbin juga menjadi tempat pertemuan tanpa sekat bagi semua kalangan di UGM. Seorang staf UGM mengungkapkan bahwa Kantin Bonbin menyatukan mahasiswa junior, senior, hingga para guru besar dalam satu tempat. Semua orang dapat berkumpul, bercerita, dan berdiskusi tanpa adanya batasan atau sekat. Hal ini menciptakan suasana yang hangat dan harmonis di Kantin Bonbin.
Menariknya, Kantin Bonbin didirikan oleh almarhum Rektor Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, S.H. Kantin ini merupakan hasil relokasi dari pedagang yang sebelumnya berjualan di sekitar UGM. Beliau adalah seorang tokoh yang humanis dan merakyat, sehingga memahami pentingnya adanya tempat berkumpul dan berbagi di lingkungan kampus.
Selain suasana yang nyaman, Kantin Bonbin juga terkenal dengan makanan yang murah dan lezat. Dengan uang Rp 10 ribu atau Rp 5 ribu, sudah bisa mendapatkan makanan yang mengenyangkan. Bahkan, jika pintar memilih menu sederhana, uang Rp 10 ribu tersebut bisa mendapatkan kembalian. Hal ini menjadi daya tarik bagi mahasiswa UGM yang memiliki anggaran terbatas.
Tidak hanya itu, Kantin Bonbin juga menjadi tempat yang homy bagi para mahasiswa. Dalam wawancara dengan mahasiswa, mereka mengungkapkan bahwa jajan dan kongkow di Kantin Bonbin membuat mereka merasa seperti berada di rumah sendiri. Mereka bisa duduk santai, ngopi, dan ngobrol bareng teman-teman. Selain itu, sikap ramah penjual makanan di Kantin Bonbin juga menjadi nilai tambah yang membuat mahasiswa betah berada di sana.
Menariknya, meskipun makanan di Kantin Bonbin dijual dengan harga yang murah, para pedagang mengaku bahwa mereka tetap bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga dan masih ada sisa pendapatan setelah mengonsumsi makanan mereka sendiri. Hasil riset dari beberapa lembaga mahasiswa seperti departemen Kajian Strategis BEM KMFT UGM, BEM KM UGM, BEM FEB UGM, LEM PSIKOLOGI, DEMA FISIPOL UGM, dan Save Bonbin Movement menunjukkan bahwa hampir semua pedagang di Kantin Bonbin mampu memenuhi kebutuhan mereka dan bahkan bisa menyisihkan uang untuk tabungan masa depan.
Tidak hanya itu, Kantin Bonbin juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Terdapat dua belas pedagang yang sangat bergantung pada Kantin Bonbin. Ketika mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka, mereka juga dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Bahkan, mereka dapat menyisihkan sebagian uang untuk tabungan masa depan mereka. Hal ini memberikan jaminan kesejahteraan bagi pedagang Kantin Bonbin.
Selain menjadi tempat berkumpul dan bersosialisasi, Kantin Bonbin juga menjadi wadah pertukaran informasi dan ilmu antar berbagai disiplin ilmu di Klaster Soshum UGM. Tatanan meja dan kursi yang tidak individualis, dengan kapasitas mencapai 6-8 orang, memudahkan terjadinya proses interaksi sosial di Kantin Bonbin. Hal ini menciptakan suasana yang baik dan mendukung dalam proses pembelajaran di UGM.
Dengan semua fakta unik yang telah diungkapkan, tidak heran jika mahasiswa UGM merasa kehilangan jika Kantin Bonbin benar-benar direlokasi. Kantin Bonbin bukan hanya sekadar tempat makan, tetapi juga menjadi tempat berkumpul, berbagi cerita, dan saling mendukung antar mahasiswa. Relokasi Kantin Bonbin dapat menghilangkan ikatan sosial yang telah terjalin selama puluhan tahun di UGM.
Dalam aksi demonstrasi damai yang telah dilakukan oleh mahasiswa UGM, mereka menuntut agar Bonbin tidak direlokasi. Mahasiswa berharap pihak kampus dan pemerintah dapat mempertimbangkan kembali rencana pembuatan area hijau di UGM sehingga Kantin Bonbin tetap bisa bertahan. Kantin Bonbin bukan hanya warung makan, tetapi juga merupakan simbol kebersamaan, keakraban, dan kesatuan di lingkungan kampus. Relokasi Kantin Bonbin dapat berdampak negatif bagi kehidupan akademik dan sosial di UGM.
Sebagai mahasiswa UGM, kita juga harus ikut serta dalam mendukung aksi damai ini. Kita dapat menyuarakan pendapat kita melalui media sosial, melakukan petisi, atau bahkan turut serta dalam aksi demonstrasi. Dengan bersatu dan berjuang bersama, kita dapat mempertahankan Kantin Bonbin sebagai tempat yang berarti bagi mahasiswa UGM.
Kantin Bonbin bukan hanya sekadar tempat makan, tetapi juga merupakan warisan dari para pendahulu kita. Kantin Bonbin adalah tempat yang telah membawa banyak kenangan, persahabatan, dan kebersamaan di UGM. Jangan biarkan warisan berharga ini hilang begitu saja. Mari kita bersama-sama menjaga Kantin Bonbin agar tetap menjadi tempat yang menyenangkan dan berarti bagi mahasiswa UGM.