10 Makanan Tradisional yang Mulai Punah Namun Membuat Anda Serasa Muda Kembali

Heading 2: Makanan Tradisional Langka di Pasar Kotagede, Beringharjo, Demangan, dan Pathuk di Yogyakarta

Pasar tradisional adalah salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi. Di pasar, kita dapat menemukan berbagai jenis makanan tradisional yang tidak kita temui di tempat lain. Pasar Kotagede, Beringharjo, Demangan, dan Pathuk di Yogyakarta adalah empat pasar tradisional yang menawarkan berbagai makanan tradisional yang langka dan sulit ditemui di tempat lain.

Salah satu makanan tradisional yang langka di pasar-pasar tersebut adalah Unter-unter, yang juga dikenal dengan nama untir-untir, pluntir, atau kue tambang. Kue ini terbuat dari tepung terigu, gula pasir, dan beberapa bahan lainnya. Dinamai kue tambang karena bentuknya yang melilit seperti tambang. Kue ini biasanya disajikan saat arisan ibu-ibu, Idul Fitri, atau Idul Adha. Warna kue tambang juga beragam, ada yang coklat muda dan ada yang lebih gelap. Kue ini cocok sebagai teman minum teh dan juga sebagai kudapan saat belajar. Di beberapa pasar tradisional, kue ini masih relatif mudah ditemui dengan harga antara Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per kilogram.

Selain itu, ada juga makanan tradisional yang juga memiliki rasa manis, yaitu madumongso. Meskipun namanya menggunakan kata “madu”, makanan ini tidak ada hubungannya dengan madu sama sekali. Makanan ini terbuat dari ketan hitam yang difermentasi, kemudian ditambahkan gula, santan, dan buah nanas untuk dimasak hingga menyerupai dodol atau jenang. Madumongso biasanya dibungkus dengan kertas cantik berwarna-warni. Harga satu kotak berisi 10 madumongso berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 12.000. Anda bisa mendapatkannya di pasar Kotagede, Yogyakarta.

Kemudian, ada juga makanan tradisional yang disebut jenang krasikan atau kue ladu. Jenang krasikan atau kue ladu adalah camilan favorit dan oleh-oleh khas Jawa Tengah. Makanan ini memiliki tekstur yang lengket dan agak membal saat dikunyah. Untuk membuatnya, beras kentan dicampur dengan santan, gula merah, dan parutan kelapa, kemudian dimasak selama beberapa jam hingga mengental. Setelah itu, adonan jenang itu diletakkan di wadah seperti loyang dan dingin. Proses terakhirnya adalah memotong-motong sesuai selera. Harga jenang krasikan bervariasi tergantung ukuran dan pembuatnya. Anda juga bisa mengunjungi rumah ibu Sunarti di Dusun Glagah, Desa Sirahan, Salam, Magelang, Jawa Tengah untuk membeli jenang krasikan atau menghubungi nomor 0813 2887 9887.

Selanjutnya, ada juga makanan tradisional yang memiliki bentuk unik, yaitu kuping gajah. Kuping gajah adalah makanan kecil berbentuk bulat dengan lingkaran hitam-putih. Kue ini biasanya disajikan saat Idul Fitri dan Idul Adha, serta menjadi kudapan favorit saat arisan di lingkungan rumah tangga. Kuping gajah terbuat dari tepung terigu, margarin, gula bubuk, garam, vanili bubuk, telur ayam, dan santan kental. Harga satu kilogram kuping gajah berkisar antara Rp 40.000. Kuping gajah masih mudah ditemui di pasar-pasar tradisional seperti pasar Kotagede atau Beringharjo di Yogyakarta.

Selain itu, ada juga makanan tradisional yang memiliki nama unik, yaitu endog gludug atau pia telur gajah. Makanan ini mirip dengan kue pia dengan ukuran yang lebih besar. Endog gludug juga bisa disebut pia telur penyu, karena bentuknya yang bulat dan putih mirip dengan telur penyu. Endog gludug banyak ditemukan di kota Banyumas, Purwokerto, dan Purbalingga, namun juga ada di pasar-pasar di Yogyakarta. Bahan pembuatannya hampir sama dengan pia, yaitu menggunakan tepung terigu. Setelah dicampur dengan beberapa bahan lainnya, adonan pia ini dibakar menggunakan oven bata berbentuk silinder. Setelah matang dan dingin, kita akan mendapatkan endog gludug yang garing di luar tapi renyah di dalam. Harga per bungkus endog gludug sekitar Rp 8.000.

Selain itu, ada juga kue jahe bentuk orang yang menjadi salah satu makanan tradisional yang langka. Kue jahe awalnya berasal dari Inggris pada abad ke-15. Jahe sendiri sudah digunakan sejak zaman dahulu di Cina sebagai bahan obat. Di Eropa, jahe digunakan sebagai campuran saat memasak daging. Raja Henry VIII bahkan menggunakan jahe untuk melawan wabah penyakit. Di Indonesia, kue jahe mulai diperkenalkan oleh penjajah Belanda. Di Yogyakarta, kue jahe masih “menyerupai” bentuk manusia. Kue jahe ini memiliki berbagai varian rasa, seperti bawang, nangka, dan durian. Kue jahe bisa ditemui di beberapa pasar tradisional dengan harga berkisar antara Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per bungkus.

Selanjutnya, ada juga makanan tradisional yang sulit ditemui di pasar-pasar Yogyakarta, yaitu clorot. Clorot adalah makanan manis yang dibungkus dengan daun janur. Makanan ini berasal dari daerah Grabag, Purworejo, dan sudah ada di Yogyakarta sejak puluhan tahun lalu. Cara memakannya cukup unik, kita tidak perlu membuka bungkusnya dari atas, tapi cukup menekan bagian bawahnya hingga ujung kuenya keluar. Clorot semakin langka dan sulit ditemui di beberapa pasar di Yogyakarta. Harganya sekitar Rp 7.000 untuk satu ikat clorot.

Selain itu, ada juga minuman tradisional yang langka di Yogyakarta, yaitu wedang tahu. Meskipun kata “wedang” berarti minuman dalam bahasa Jawa, wedang tahu ini sebenarnya menyerupai sup. Wedang tahu terbuat dari tofu yang disiram dengan kuah panas yang terbuat dari gula merah dan jahe. Minuman ini memiliki rasa manis dan sedikit pedas. Harga satu cup wedang tahu sekitar Rp 6.000. Minuman ini cocok sebagai menu sarapan atau bekal saat bepergian.

Selain itu, ada juga permen warna-warni isi biskuit yang merupakan makanan tradisional yang langka. Permen ini memiliki warna cerah dan lembut karena berisi remahan biskuit. Permen ini masih bisa ditemui di beberapa pasar seperti Beringharjo dan Pathuk dengan harga antara Rp 8.000 hingga Rp 10.000 per bungkus.

Terakhir, ada minuman tradisional yang langka, yaitu limun sarsaparilla pakai kawat. Minuman ini terbuat dari batang tanaman sarsaparilla yang disebut juga dengan sarsi atau saparella. Minuman ini dulunya menjadi favorit para raja di Yogyakarta. Limun sarsaparilla ini memiliki botol yang unik, menggunakan tutup keramik yang dikaitkan dengan kawat. Minuman ini masih bisa ditemui di beberapa tempat, seperti warung soto Mbok Galak di pasar Pathuk. Harga satu botol limun sarsaparilla sekitar Rp 25.000.

Itulah beberapa makanan tradisional langka yang bisa ditemui di pasar Kotagede, Beringharjo, Demangan, dan Pathuk di Yogyakarta. Meskipun semakin sulit ditemui, makanan-makanan tradisional ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Oleh karena itu, pemerintah perlu campur tangan untuk melestarikan budaya konsumsi makanan tradisional ini.


Dian

Dian

Menghadirkan konten berkualitas yang menggambarkan keindahan dan keunikan Yogyakarta, Berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mempromosikan pariwisata dan produk lokal, Menjadi sumber informasi terpercaya tentang Yogyakarta bagi pembaca exploreyogya.com!
https://exploreyogya.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *